TERJEBAK dalam lingkaran amarah dan dendam tak akan
pernah mendatangkan kebahagiaan. Sebaiknya stop mengungkapkan amarah
membabi buta dengan lima cara berikut yang dijelaskan psikolog terkenal,
Roslina Verauli, kepada Okezone belum lama ini.
Menerima kemarahan
Orang kerap keliru memahami kalimat ini. Ini bukan berarti membiarkan
perlakuan semena-mena orang lain atas diri kita. Tapi bukan pula
menyangkal kemarahan. Ada cara lain untuk mengeluarkan amarah tanpa
memiliki rasa dendam, yakni dengan mengatakan “Saya marah” emosi Anda
akan terlupakan dan orang lain akan mengetahui perasaan Anda.
Memahami sumber kemarahan
Pahami, “apa” yang membuat kita marah bukan “siapa” yang membuat marah.
Fokus pada “siapa” yang membuat kita marah hanya akan membuat kita
terdorong melakukan balas dendam.
Pahami dari sisi lain
Selain itu, coba tempatkan kita pada beberapa sudut pandang yang
berbeda. Misalnya, kemarahan karena dikhianati pasangan, coba lihat apa
alasan pasangan melakukan hal tersebut. Dari sini kita bisa mengurai
permasalahan sekaligus kemarahan.
Fokus pada penghayatan orang lain lebih menderita
Setelah memahami dari sisi lain, berarti waktunya Anda untuk tak
mengumbar kemarahan lagi. Jangan biarkan diri ikut bermasalah. Apalagi
bila kejadiannya sudah berlalu. Lupakan.
Katakan “Hey, lihat i’m okay”
Rasakan dan maknai kata ini dalam-dalam. Kita tak lagi memiliki emosi
negatif. Tak merasa lagi marah dan mendendam serta lega. Karena kita
mampu menghayati setiap kejadian dari sudut pandang lain yang lebih baik
dan kemudian fokus pada pelajaran yang dapat diambil dari sebuah
permasalahan.
